Antara Pengemis Dan Pekerja Keras -- Kisah Inspiratif!

8/12/2010

Ayah saya seorang pedagang di pasar tradisional, mempunyai 1 kios yang tidak terlalu besar, dan didalamnya terdapat berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Seluruh isi kios tersebut terisi penuh, dan hampir susah sekali untuk bergerak di dalamnya. 

Atap yang tadinya terlihat alat pemadam kebakaran otomatis sekarang berubah menjadi "loteng" untuk penyimpanan barang dagangannya karena alat pemadamnya sudah tidak bekerja lagi.

Setiap jam 5 subuh Ayah saya pergi ke "kantor" nya di pasar untuk membuka kiosnya dan menata kembali barang dagangannya. 


Selain para pedagang pasar ada juga beberapa pengemis yang juga sudah menempati tempatnya masing-masing untuk meminta uang recehan kepada para pembeli.

Adalah Asep, usianya kurang lebih 40 tahun, seorang pengemis yang menempati pojok kios tepat didepan tempat dagang Ayah saya. Dari jam 5 subuh hingga jam 4 sore dia bekerja untuk mengemis kepada para pembeli. 

Pakaian kusam dan kotor adalah seragam untuknya bekerja. Pernah saya bertanya kepada dia secara halus, karena saya sudah tidak ragu lagi dengan dia. Saya bertanya berapa pendapatan dia sehari dari mengemis tersebut, dia menjawab dengan halus bahwa pendapatannya sehari bisa mencapai 50-100 ribu. 

Saya kaget, seorang pengemis seperti dia yang hanya duduk berpakaian kotor bisa mendapatkan penghasilan sehari sebanyak itu, bahkan kalau dibandingkan dengan gaji saya dari orang tua, sehari tidak sampai 25 ribu.

Ada satu lagi kenalan saya di pasar tersebut, yaitu seorang pemulung dus bekas, seperti dus bekas mie, sabun, kopi dan semacamnya. Biasa orang memanggilnya Mang Udin, kurang lebih usianya sekitar 50 tahun. 

Pekerjaanya sehari-hari adalah sebagai pencari dus bekas, setiap melewati kios Ayah saya pasti dia selalu bertanya apakah ada dus bekas yang bisa dia ambil. Karena memang sudah langganan, tiap kali ada dus bekas, Ayah saya selalu menyimpan terlebih dahulu untuk diambil Mang Udin nanti.

Pernah juga saya bertanya kepada Mang Udin berapa penghasilannya per hari, dia menjawab dengan hati senang bahwa penghasilannya itu hanya 10 ribu rupiah, itupun jika mendapatkan banyak dus bekas, jika tidak paling hanya dapat 3 ribu. Mengetahui penghasilannya 10 ribu per hari, seketika saya merasa sedih sekali melihatnya. Kenapa dia tidak mencari pekerjaan lain yang bisa menghasilkan lebih banyak, atau mungkin mengikuti jejak seperti Asep yang menjadi seorang pengemis berpenghasilan sehari 100 ribu. Tetapi dia berkata bahwa dia lebih baik bekerja keras dan menghasilkan uang 10 ribu rupiah sehari, daripada harus mengemis dan merengek kepada orang lain untuk meminta belas kasihan.

Mendengar kata-kata tersebut seperti sebuah nasehat untuk saya bahwa sekecil apapun hasil kita tapi karena bekerja keras, lebih mulia daripada hasil dengan meminta-minta belas kasihan seseorang.

3 Comments

  1. catatan yang sangat menyentuh...banyak makna yg bisa saya ambil ..terima kasih sob..

    BalasHapus
  2. Mantap sob, semoga pekerja keras di angkat derajatnya oleh Allah, dan semoga masa depannya di berikan kesuksesan oleh allh swt. amiin

    http://waktu-luangku.blogspot.com

    BalasHapus

Catatan : Berikan komentar sewajarnya, cermin seseorang dapat dilihat dari ucapannya.